Thursday, October 8, 2009

JERAWAT, BAGAIMANA MESTI DIATASI ?

Nova, Rabu, 10 Desember 2008 | 21:10 WIB
JERAWAT memang salah satu masalah kulit yang umum dan kerap mengganggu. Bukan hanya bikin kulit jadi tak nyaman karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, tetapi juga bisa membuat penampilan wajah jadi kurang enak dilihat.

Bahkan bila jerawat yang diderita cukup parah, bisa meninggalkan bekas berupa vlek hitam atau bopeng dan kulit tampak seperti papan parut. Terbayang, kan, pasti akan minder bila harus punya wajah yang tak bersahabat seperti itu.

Menurut dr. Samuel L. Simon, Sp.K.K., spesialis kulit dari Semanggi Specialist Clinic, jerawat memang merupakan masalah yang kerap mengganggu penampilan, terutama pada wanita. Namun, seringkali orang mempercayai mitos yang berkembang di masyarakat yang mengaitkan jerawat dengan masalah kebersihan atau akibat banyak mengonsumsi makanan berlemak.

"Pada dasarnya jerawat muncul akibat adanya sumbatan di saluran kelenjar minyak yang kemudian terinfeksi bakteri propionibacterium acnes. Dan terjadilah proses inflamasi atau peradangan, sehingga timbullah jerawat," ungkap Simon memperjelas.

Sedangkan jerawat yang kemudian tampak, baik itu yang berukuran kecil tanpa peradangan (komedo), yang meradang dan bernanah di puncaknya, hingga yang sebesar biji jagung atau umumnya disebut jerawat batu (cystic acne), pada dasarnya memiliki penyebab yang sama. Hanya tingkat keparahannya saja yang berbeda. Dan tingkat keparahan ini yang disumbang oleh berbagai latar belakang

Dari Hormonal Sampai Bedak
Terjadinya jerawat pada umumnya disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain akibat adanya sumbatan, produksi minyak berlebih, atau infeksi bakteri. Namun, beberapa kondisi lain juga bisa memicu terjadinya jerawat. Terutama sangat berkaitan dengan kondisi tubuh dan perlakuan terhadap kulit wajah.

Berdasarkan faktor keturunan, menurut Simon umumnya menjadi penyebab orang bisa berjerawat parah. Secara genetik, peluang berjerawat dapat diturunkan melalui sifat-sifat gen yang mempengaruhi kondisi kulit sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya jerawat.

Misalnya, kelenjar minyak kulit yang overaktif dan perbedaan kemampuan regenerasi kulit yang tidak normal. Regenerasi sel kulit yang tidak normal menyebabkan penumpukan sel kulit mati pada pori. Kondisi ini tentu memperbesar kemungkinan terjadinya penyumbatan pada saluran kelenjar minyak kulit dan peradangan, karena aktivitas bakteri yang memang menyukai tumpukan lemak.

Selain keturunan, faktor hormonal juga dapat memicu makin parahnya jerawat. Aktivitas hormonal yang meningkat seperti menjelang menstruasi atau di masa memasuki usia pubertas, membuat kelenjar minyak kulit menjadi overaktif.

Tetapi harus dipahami, hal ini tidak terjadi pada semua orang. Hanya pada orang-orang tertentu yang kondisi kulitnya sangat berminyak. Jadi, perubahan hormonal tidak selalu menyebabkan seseorang jadi berjerawat.

Selain itu, konsumsi obat kortikosteroid (baik oral maupun topikal) yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, menurut Simon juga dapat menyebabkan jerawat mudah timbul karena aktivitas bakteri kurang baik yang meningkat.

Nah, selain faktor-faktor internal tadi, jerawat juga bisa diperparah atau dipacu oleh faktor eksternal. Pada wanita, penggunaan kosmetik yang mengandung banyak minyak atau penggunaan bedak yang menyatu dengan foundation dapat micu munculnya jerawat.

Penggunaan kosmetik atau produk perawatan seperti pembersih wajah yang terlalu berminyak (mengandung minyak) dapat menyebabkan pori-pori tersumbat. Begitu juga penggunaan bedak yang mengandung foundation. Foundation yang terkandung pada bedak, menyebabkan bubuk bedak mudah menyumbat pori-pori.

Beda Indikasi, Beda Obat
Begitu banyak obat jerawat yang beredar di pasaran, menawarkan berbagai keunggulan dan khasiatnya. Sayangnya, jika tak tahu dengan benar bagaimana dan apa yang diperlukan bagi masalah kulit kita, mengobati jerawat juga bisa jadi tidak efektif.

Kendati yang digunakan adalah obat berharga mahal - atau terkadang kita menganggapnya ‘tidak cocok' terhadap obat jerawat yang dipakai - walau sebenarnya bukan demikianlah yang terjadi.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk memahami terlebih dulu apa kandungan obat dan dan apa fungsinya. Dan perlu diketahui pula, obat jerawat tidak semua berupa obat topikal, meskipun jerawat merupakan masalah di permukaan kulit. Tetapi, obat jerawat juga ada yang diminum (oral).

Beberapa obat jerawat yang diminum memiliki khasiatnya sendiri-sendiri. Misalnya, obat yang mengandung isotretinoin fungsinya untuk mengecilkan kelenjar minyak sehingga produk minyak bias berkurang. Obat minum jenis ini bermanfaat bagi masalah jerawat dengan latar belakang kulit berminyak.

Sedangkan obat jerawat oral yang mengandung tetracycline lebih bertujuan sebagai antibiotik untuk mengatasi adanya infeksi, yang ditandai dengan kemerahan dan timbulnya nanah. Sehingga cocok digunakan pada jerawat yang meradang dan bernanah. Sementara obat jerawat jenis erithromycine dan clindamycine lebih bersifat sebagai antibiotik, yang bisa digunakan pada jerawat, meski belum menunjukkan tanda-tanda peradangan.

Untuk jenis topikal (oles) dikenal banyak merek dan sejumlah kandungan yang ditawarkan. Obat jerawat topikal yang mengandung benzoyl peroxide berfungsi sebagai anti bakteri dan anti inflamasi. Obat oles jenis ini juga dapat mengelupaskan kulit untuk mengangkat sumbatan-sumbatan pori dengan mengangkat kulit mati.

Sedangkan obat jerawat yang mengandung asam retinoin bisa mengeringkan jerawat sekaligus mengecilkan kelenjar minyak. Sehingga cocok untuk jerawat yang meradang pada jenis kulit yang berminyak.

Sembuh Sendiri
Menurut Simon, seharusnya tak perlu khawatir berlebihan menghadapi jerawat, karena sebetulnya jerawat bisa sembuh dengan sendirinya, akan tetapi memang perlu waktu sekitar 2 minggu atau lebih.

"Beberapa orang punta rasa ketakutan, jerawatnya akan semakin meradang. Lalu buru-buru main pencet jerawat. Padahal, kalau dipencet sembarangan justru bisa bikin infeksi dan berbekas!" ungkap Simon mengingatkan.

Simon juga menambahkan, jika memang belum sempat berkonsultasi pada dokter untuk menyembuhkan jerawatnya, sebaiknya biarkan saja dan jangan memegang atau memencetnya. Perlahan dan pasti, jerawat akan sembuh dan hilang dengan sendirinya.

Akan tetapi, menggunakan obat-obatan untuk mengatasi jerawat pun tak ada salahnya, karena dapat berfungsi meredakan keluhan yang menyertai jerawat. Namun sekali lagi, pahami betul kebutuhan akan jenis obat yang mana. "Yang terbaik tetap menemui dokter atau ahlinya untuk mendapatkan pengobatan secara tepat," pungkas Simon menegaskan.

Laili Damayanti

Tuesday, September 29, 2009

AGAR OTAK ENGGAK LEMOT

"Apa ya, judul filmnya Cindy Crawford dulu itu? Yang film action?" tanya seorang teman, yang tahu bahwa Anda penggemar film. Bukannya langsung menjawab, keringat Anda malah mengucur deras. Otak berpikir keras, "Apa ya, judulnya?" Bukankah ini pertanyaan gampang yang dulu pasti akan Anda jawab dengan mudah? "Hm... ini pasti faktor U!" ujar Anda dalam hati.
Bila hal seperti ini terjadi, tak usah panik. Anda dapat menetralkan perubahan otak yang disebabkan oleh usia (yang biasanya dimulai pada umur 30-an) dengan aktivitas sederhana yang dijamin mampu memelihara dan memperkuat otot mental Anda. Berikut adalah lima cara mudah yang bisa tetap menjaga otak tetap cepat dan tajam tersebut:

1. Aerobik dan jalan cepat
Olahraga dipercaya mampu menangguhkan penyakit dementia, selain dapat membalikkan penuaan otak. Tim dari Beckman Institute, University of Illinois, baru-baru ini mempelajari kembali berbagai studi yang pernah dibuat, dan mendapati bahwa latihan aerobik dapat mendongkrak kecepatan dan ketajaman otak, serta menambah volume jaringan otak. Anda bisa mencoba jalan cepat selama 50 menit, tiga kali seminggu, untuk mendapatkan efek perkembangan otak ini. Para peneliti University of Michigan juga mendapati bahwa orang yang biasa jalan cepat di taman yang dikelilingi pepohonan juga mampu meningkatkan memorinya sebanyak 20% daripada yang berjalan pagi di jalan raya.

2. Gosok gigi dan floss
Kesehatan gigi sering dikaitkan dengan kesehatan otak, demikian menurut penelitian para psikiater dan dokter gigi dari Inggris. Setelah mengobservasi ribuan responden berusia 20-59 tahun, tim ini mendapati bahwa gingivitis dan penyakit yang menyerang gusi akan menyebabkan penurunan fungsi kognitif orang dewasa. Dan hal ini tak cuma terjadi pada kaum lansia, lho. Saran dokter gigi adalah, menggosok gigi selama 2 menit setidaknya sekali sekali, dan membersihkan gigi dengan dental floss sesudahnya.

3. Mengonsumsi blueberry
Penelitian baru menunjukkan bahwa buah-buahan yang berwarna gelap akan membantu menajamkan proses berpikir. Para peneliti dari National Institute on Aging dan Tufts University melakukan eksperimen dengan tikus jantan yang diinjeksi dengan asam kainic (asam tumbuhan laut yang biasanya terdapat pada rumput laut) untuk menirukan stres oksidatif yang terjadi karena penuaan. Tikus yang diberi makanan yang mengandung 2% ekstrak blueberry mampu menavigasi tempat yang menyesatkan dengan lebih baik daripada tikus yang tidak mendapatkan senyawa ini.
Dalam studi yang lain, peneliti yang sama menemukan bahwa tikus yang mengonsumsi blueberry menunjukkan pertumbuhan sel yang meningkat dalam hippocampus, komponen utama dalam otak. Menurut teori para peneliti, anthocyanin -pigmen biru tua yang ditemukan pada blueberry- adalah yang menyebabkan perubahan kognitif tersebut.
Untuk menikmati blueberry, taburkan buah-buahan ini pada sereal atau yogurt, atau campurkan pada smoothie. Jika buah ini sedang tidak musim, belilah blueberry beku.

4. Mainkan puzzle
Dalam sebuah survei yang digelar University of Alabama terhadap hampir 3.000 pria dan wanita, mereka yang berpartisipasi dalam 10 sesi latihan pendongkrak otak selama 60-75 menit, mampu menajamkan kemampuan mental mereka sehingga otak berfungsi layaknya orang yang berusia 10 tahun lebih muda. Untuk memainkan puzzle, mulailah dengan jenis yang mudah lebih dulu. Begitu kemampuan Anda meningkat, cari jenis yang lebih menantang.

5. Meditasi
Meditasi tidak sekadar menjadi pelepas stres, tetapi juga meningkatkan komponen utama sistem saraf pusat pada otak. Responden yang mengikuti survei dari Massachusetts General Hospital di Boston tampak telah mengalami pertumbuhan dalam korteks, suatu area di dalam otak yang mengontrol memori, bahasa, dan proses sensor. Orang yang terbiasa meditasi, menurut studi dari University of Kentucky, mampu menjalani tes ketajaman mental lebih baik daripada yang tidak pernah meditasi.
Jadikan meditasi sebagai kebiasaan Anda, dengan melakukannya selaam 40 menit setiap hari. Anda bisa mengawalinya selama 15 menit saat istirahat makan siang, atau sebelum berangkat ke kantor. Duduk tegak, tutup mata, dan fokuslah pada apa pun yang Anda alami saat itu. Entah mendengar suara burung berkicau, hujan yang turun, atau bahkan suara nafas Anda sendiri.

Sumber : KOMPAS.com -, Jumat, 11 September 2009 | 11:49 WIB